RSS

Pendidikan Pertanian

Pendidikan Pertanian

PDF Cetak E-mail

Sebatas menjadi petani, sesungguhnya tidak terlalu perlu melewati sebuah pendidikan formal tertentu, apalagi bagi petani kecil di pedesaan yang hidup hanya dengan lahan terbatas. Para petani di pedesaan belajar pertanian biasanya melalui cara-cara yang praktis dan sederhana, meniru orang tua atau para tetangganya yang bekerja sebagai petani. Seorang anak petani diajak oleh orang tuanya membantu bekerja di kebun atau di sawah, mulai mencangkul, mencari dan menanam bibit, menyiangi, menjaga dari serangan hama, hingga akhirnya memanen buah tanamannya itu.
Melalui cara yang dilakukan berulang-ulang dalam waktu tertentu anak petani bisa bertani. Pengalaman dan juga pengetahuannya bertambah sesuai dengan perjalanan hidupnya. Semakin tua atau bertambah umur, anak petani semakin matang. Mereka dengan sendirinya, akan semakin kaya pengetahuan dan juga pengalaman. Akhirnya, di kalangan masyarakatnya anak tersebut jika berhasil memiliki kelebihan akan dipandang sebagai petani ulung. Predikat itu diperoleh dari masyarakat. Hal itu sama dengan gelar yang diberikan kepada seseorang yang dianggap paham ilmu agama dengan sebutan kyai, tuan guru, ajengan, atau sebutan lain serupa itu.


Sementara lainnya, ada orang belajar tentang pertanian melalui sekolahan dan bahkan universitas. Berbeda cara belajar bertani melalui pengalaman, adalah belajar bertani melalui lemaga pendidikan, dilaksanakan secara sistematis, mengikuti kurikulum, cara belajar, buku atau literature, guru, dan juga dilakukan evaluasi pada setiap waktu tertentu. Belajar pertanian di lembaga pendidikan, dilakukan dengan cara yaitu para siswa diajak memahami teori-teori yang disusun oleh para ahli, meneliti di laboratorium, dan juga melakukan uji coba yang bisa dilakukan.

Belajar dengan cara tersebut, dalam waktu tertentu berhasil memahami dunia pertanian secara lebih luas. Bahan yang diajarkan berupa prinsip-prinsip, konsep-konsep, kaidah-kaidah, teori-teori yang terkait dengan pertanian menjadikan para siswa atau mahasiswa memiliki wawasan luas. Sudah barang tentu, bahwa kaidah, teori, prinsip-prinsip itu sifatnya umum sedangkan detail-detailnya hendaknya dikembangkan sendiri. Dengan belajar secara tekun para siswa atau mahasiswa akan mampu memahami teori, konsep, atau prinsip-prinsip itu. Akan tetapi dalam praktek mereka belum tentu berhasil mengalahkan petani yang sudah lama bekerja di lapangan pertanian.

Orang yang lama belajar pertanian melalui lembaga pendidikan formal seringkali masih kalah dengan para petani yang kaya pengalaman. Sehingga sementara orang menyebut mereka sebagai telah memiliki keahlian dalam bertani, tetapi tidak bisa bertani. Mereka bisa menjelaskan berbagai hal tentang pertanian, mulai dari mengenal jenis tanah, jenis bibit, bagaimana menanam secara efentif, perilaku tanaman, iklim yang cocok dengan jenis tanaman tertentu tetapi sebaliknya tidak cocok bagi tanaman lainnya, bagaimana memanen dan seterusnya. Akan tetapi, mereka belum tentu telah memiliki pengalaman yang cukup dalam praktek.

Pertanyaannya adalah jenis pendidikan mana yang dibutuhkan oleh bangsa pada saat ini. Penddikan formal, semacam sekolah pertanian atau fakultas pertanian sekalipun, berhasil memberikan bekal berupa kemampuan akademik, tetapi belum tentu berhasil tatkala dituntut memberi bekal kultur atau budaya pertanian. Secara akademik, lulusan lembaga pendidikan formal, mereka paham tentang pertanian tetapi penghayatan terhadap pertanian, dan apalagi kecintaan terhadap bidang itu tidak selalu berhasil dibangun.

Banyak contoh hasil pendidikan pertanian tidak tertarik pada lapangan pekerjaan pertanian, tetapi milih jenis pekerjaan lain seperti menjadi pegawai perbankan, PNS, dan bahkan juga sebagai wartawan. Mereka belajar tentang pertanian hanya dimaksudkan sebagai cara mereka berlatih berpikir, mengembangkan nalar atau berlatih berpikir academic. Padahal semestinya, akan menjadi lebih sempurna jika para ilmuwan pertanian itu juga berhasil membangun kecintaan atau budaya bertani.

Budaya bertani menurut hemat saya bisa dibangun melalui kedekatan seseorang dengan dunia pertanian itu sendiri. Selama ini lembaga pendidikan, termasuk lembaga pendidikan tinggi sekalipun, belum banyak yang mengembangkan usaha-usaha kearah itu. Lembaga pendidikan pertanian tidak jarang yang hanya menyediakan ruang kelas, perpustakaan dan laboratorium. Belajar tentang pertanian tidak secara langsung di lapangan, melainkan di ruang kelas, atau di laboratorium itu. Akibatnya, mereka tidak berhasil menghayati secara lebih mendalam tentang pertanian.

Umpama lembaga pendidikan pertanian atau bahkan juga kampus fakultas pertanian diletakkan di wilayah pertaniaan ------gunung, desa atau di hutan, sehingga para siswa tidak saja diberikan pelajaran tentang ilmu pertanian, melainkan sehari-hari langsung bergumul dengan kegiatan pertanian di lahan itu, maka akan dihasilkan orang yang mengerti tentang pertanian sekaligus juga menghayati dan mencintai bidang ilmunya itu. Para siswa atau mahasiswa pertanian, dengan begitu, setiap hari berada di beberapa lingkungan akademik yaitu di laboratorium, perpustakaan, dan dibimbing langsung dari dosen atau guru besar pertanian sekaligus di lahan pertanian.

Lembaga pendidikan pertanian dan atau fakultas pertanian semestinya tidak berlokasi di tengah kota, melainkan di desa yang lahannya masih luas. Para siswa atau mahasiswa dengan begitu sehari-hari tidak saja berwacana atau membayangkan dunia pertanian, melainkan secara langsung belajar tentang pertanian sebagaimana anak desa dalam belajar bertani. Bedanya, para siswa dan mahasiswa selain belajar dari pengalaman juga belajar tentang prinsip, konsep, teori yang terkait dengan bidang itu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar